Psikiater Mintarsih A. Latif Nilai Gaya Komunikasi Hotman Paris Sebagai Pembohong dan Drama King

Jakarta – Psikiater Mintarsih A. Latif menilai gaya komunikasi seorang figur publik memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat membentuk persepsi. Pernyataan itu disampaikan saat dimintai tanggapan mengenai berbagai kontroversi yang belakangan melibatkan pengacara kondang Hotman Paris.
Menurut Mintarsih, sikap yang dinilai arogan, penggunaan bahasa yang keras, serta kebiasaan melontarkan caci maki di ruang publik dapat membentuk citra negatif di mata masyarakat.

“Ketika seseorang memiliki popularitas dan kekuasaan sosial yang besar, karakter pribadinya akan semakin terlihat. Jika komunikasi yang ditampilkan cenderung kasar dan merendahkan orang lain, masyarakat akan membangun penilaian berdasarkan perilaku tersebut,” ujar Mintarsih saat diwawancarai dikediamannya kemarin Selasa (28/07/2026).

Psikiater kondang ini juga menyoroti insiden ketika Hotman Paris memarahi seseorang wartawan. Menurut Mintarsih, klarifikasi yang disampaikan setelah peristiwa tersebut tetap menjadi ruang penilaian publik.

“Masyarakat berhak menilai konsistensi antara tindakan dan penjelasan yang diberikan. Kepercayaan publik dibangun dari perilaku yang dapat diamati,” katanya.

Terkait keputusan Hotman Paris mengundurkan diri sebagai penasihat hukum Febri dengan alasan kesehatan, Mintarsih mengatakan munculnya berbagai spekulasi merupakan konsekuensi dari tingginya perhatian publik terhadap kasus tersebut.

Namun, ia menegaskan bahwa kondisi kesehatan seseorang tidak dapat disimpulkan tanpa bukti medis yang sah. Banyak kejadian serupa dinegeri ini dimana pihak yang sedang berurusan dengan proses hukum tiba-tiba menyatakan dirinya sakit. Ambil contoh saja Setya Novanto politisi partai Golkar. Kemudian banyak lagi kejadian lainnya yang dilakukan pejabat yang tiba-tiba mengaku sakit dalam proses hukum yang sedan berlangsung. Sehingga sakitnya Hotman Paris ini bukan barang baru bagi Publik Indonesia.

“Spekulasi adalah hal yang biasa terjadi dalam perkara yang menjadi sorotan publik. Namun, masyarakat juga perlu membedakan antara fakta yang telah terverifikasi dengan dugaan atau opini, atau ini hanya sekedar Drama,” ujarnya.

Mintarsih juga mengingatkan bahwa kemunculan figur publik menggunakan kursi roda maupun penyampaian kondisi kesehatan tidak sepatutnya langsung dikaitkan dengan motif tertentu tanpa dasar yang jelas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sifat seperti kesombongan atau kecenderungan merasa paling benar merupakan bagian dari karakter kepribadian dan tidak serta-merta dapat disebut sebagai gangguan kejiwaan.

“Tidak semua perilaku yang dianggap arogan merupakan penyakit mental. Itu lebih berkaitan dengan karakter dan pola kepribadian seseorang. Penilaiannya harus dilakukan secara profesional dan berdasarkan pemeriksaan psikologis, bukan semata dari penampilan di ruang publik,” kata Mintarsih.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *