Kantorberita.co.id JAKARTA — Pagi itu, langit Jakarta tampak biasa saja. Matahari merayap pelan di atas Bundaran Hotel Indonesia, menyinari ribuan langkah kaki yang bergerak ringan di Car Free Day, Minggu, 14 Desember 2025. Musik berdentum, tawa bersahut, keringat menetes, dan swafoto berhamburan di udara kota yang riuh.
Namun di antara hiruk pikuk itu, terselip pesan yang tidak ringan. Pesan yang beratnya menyerupai batu di dada seorang ibu.
Di Hari Ibu Nasional, Organisasi FPPI menggandeng Badan Narkotika Nasional melalui Deputi Pencegahan, bersama sejumlah organisasi masyarakat lainnya, memilih jalan sunyi namun genting. Mereka berbicara tentang narkoba. Bukan dengan angka statistik atau jargon birokrasi, melainkan lewat kisah-kisah yang memaksa siapa pun berhenti berjalan, menelan ludah, dan diam sejenak.
Ketua Panitia kegiatan, yang juga Sekretaris Jenderal Forum FPPI Forum pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI), Hanny Hendrani, menjelaskan bahwa kampanye kolaboratif ini melibatkan berbagai organisasi perempuan, BNN, serta mitra PT Berkat Cawan Group. Tujuannya satu: menyuarakan kepedulian perempuan terhadap generasi muda.
“Sebagai perempuan, sebagai ibu, kami tidak bisa diam,” ujarnya. Bahaya narkoba, vape, kecanduan media sosial, human trafficking, hingga pernikahan di bawah umur, menurutnya, adalah ancaman nyata yang menyasar anak-anak hari ini. “Tugas ibu tidak pernah selesai. Sejak anak dilahirkan hingga mereka menemukan jodohnya kelak.”
Pesan serupa disampaikan oleh Marlinda, Ketua Umum FPPI dan KPMDI, Wenny Nasution, Ketua Umum WF FKPPI, serta Diana, Ketua P4. Dalam satu suara, mereka menyampaikan ucapan selamat Hari Ibu, sekaligus seruan agar perempuan tidak lelah berjuang menjaga keluarga. Mengusung tagline Perempuan Bergerak, Indonesia Maju, kampanye ini menjadi ruang refleksi tentang peran ibu di tengah ancaman zaman.
Kampanye tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat: GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba), FKPPI, FPPI, KPMDI, P4, hingga PT Berkat Cawan Group. Semuanya berdiri dalam satu barisan, menyasar satu figur sentral dalam kehidupan bangsa: ibu.
Ibu dipilih bukan tanpa alasan.
Di tangannyalah nilai pertama diajarkan. Dari rahimnya, generasi dilahirkan. Dari doanya, arah hidup sering kali ditentukan. Namun justru di hadapan para ibu inilah, bahaya narkoba diingatkan dengan nada yang getir. Sebab narkoba tidak sekadar merusak tubuh. Ia menggerogoti kasih sayang, mengikis akal sehat, dan menghancurkan rumah dari dalam.
Dampaknya tidak berhenti pada pengguna. Ia merambat, menyebar, dan menghantam seluruh lingkaran kehidupan. Terutama ibu.
Di tengah kerumunan itu, suara Dikdik Kusnadi, mantan Kepala BNN Jakarta Selatan, terdengar tegas namun penuh kepedihan. Ia tidak sedang berorasi. Ia sedang membuka luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
“Di dunia nyata, kasih sayang orang tua itu tidak ada batasnya,” ucapnya pelan. “Tapi saya kasih tahu. Di dunia narkoba, ada batasnya.”
Kalimat itu menggantung di udara. Sunyi sesaat. Hingga Dikdik melanjutkan dengan sebuah kisah yang masih ia ingat betul.
Ia bercerita tentang seorang ibu yang datang kepadanya saat ia masih berdinas. Ibu itu tidak datang membawa harapan, melainkan keputusasaan yang sudah melewati batas nalar.
“Pak Dikdik,” ujar sang ibu kala itu, menirukan Dikdik, “tolong tembak anak saya.”
Kalimat itu terdengar seperti kutukan. Seperti doa yang terbalik arah. Dikdik mengaku terdiam. Ia mencoba memahami. Bagaimana mungkin seorang ibu, yang sepanjang hidupnya melindungi anaknya, bisa mengucapkan permintaan sekejam itu.
Jawaban sang ibu justru lebih menyakitkan.
“Suami saya meninggal gara-gara anak itu. Saudara-saudaranya rusak karena dia. Seluruh harta keluarga habis. Dan saya sering hampir dibunuh oleh anak saya sendiri,” katanya.
Napas Dikdik tertahan saat mengulang cerita itu. Begitu pula mereka yang mendengarkan.
“Dengan cara tangan saya dipukulkan ke wajah saya sendiri oleh dia,” lanjut sang ibu kala itu. “Biadab.”
Kata itu meluncur bukan dari kebencian, melainkan dari kelelahan jiwa yang terlalu lama disiksa. Narkoba telah menjungkirbalikkan peran. Anak berubah menjadi ancaman. Rumah menjadi arena ketakutan. Ibu kehilangan makna aman.
Di situlah narkoba menunjukkan wajah aslinya. Bukan sekadar zat terlarang, melainkan bencana kemanusiaan. Ia memutus urat empati, mengeringkan air mata sebelum sempat jatuh, dan memaksa seorang ibu memilih antara cinta dan keselamatan.
Kampanye di Bundaran HI hari itu tidak diwarnai spanduk berteriak atau sirene menggelegar. Yang ada justru cerita nyata. Cerita yang menampar lebih keras daripada poster apa pun. BNN dan organisasi masyarakat berharap, para ibu yang hadir pulang dengan kewaspadaan baru. Bahwa cinta saja tidak cukup tanpa pengetahuan. Bahwa pengawasan bukan bentuk ketidakpercayaan, melainkan tanggung jawab. Bahwa narkoba bisa masuk ke rumah mana pun, tanpa memandang kelas sosial, pendidikan, atau status.
Hari Ibu biasanya dirayakan dengan bunga dan puisi. Namun pagi itu, ia diperingati dengan peringatan keras. Tentang bahaya yang merayap diam-diam. Tentang anak-anak yang bisa hilang sebelum benar-benar dewasa. Tentang ibu-ibu yang dipaksa kuat, bahkan ketika hatinya telah lama runtuh.
Di Bundaran HI, langkah-langkah kembali bergerak. Musik kembali terdengar. Kota kembali berlari. Namun bagi sebagian orang, hari itu meninggalkan gema panjang. Sebuah pengingat bahwa di balik senyum seorang ibu, bisa saja tersembunyi perang paling sunyi dalam hidupnya. ***47***
